Tuhan…
Aku bagai robot angkasa luar.
Tertatih-tatih tak ada gravitasi.
Tuhan..
Aku hanya mencari sebuah arti.
Arti sebuah peristiwa yang sangat besar nanti.
Aku bagai robot angkasa luar.
Tertatih-tatih tak ada gravitasi.
Tuhan..
Aku hanya mencari sebuah arti.
Arti sebuah peristiwa yang sangat besar nanti.
Tuhan..
Aku aku tak sanggup melihat neraca.
Neraca yang tak berimbang.
Aku pun juga tak mampu melihat rapotku kelak.
Rapot yang berisi tinta merah.
Tinta yang penuh dosa.
Aku aku tak sanggup melihat neraca.
Neraca yang tak berimbang.
Aku pun juga tak mampu melihat rapotku kelak.
Rapot yang berisi tinta merah.
Tinta yang penuh dosa.
Tuhan..
Aku tak tahu kemana harus melangkah.
Ke kiri..
Oh tidak tuhan aku tak sanggup dengan kubangan api yang membara.
Ke kanan..
Oh kurasa tidak tuhan.
Aku tak pantas berpijak dalam istana surgamu.
Aku tak tahu kemana harus melangkah.
Ke kiri..
Oh tidak tuhan aku tak sanggup dengan kubangan api yang membara.
Ke kanan..
Oh kurasa tidak tuhan.
Aku tak pantas berpijak dalam istana surgamu.
Oh tuhan..
Jika kau telah menghendakinya.
Kau ringkus dunia ini bagai tikar para PKL.
Kau tiup gunung-gunung bagai kapas tersapu angin.
Jika kau telah menghendakinya.
Kau ringkus dunia ini bagai tikar para PKL.
Kau tiup gunung-gunung bagai kapas tersapu angin.
Tapi bagaimana tuhan dengan nasib
manusia.
Dalam firmanmu..
Dalam firmanmu..
Manusia tak lagi punya arah.
Manusia tak lagi punya cahaya.
Tapi manusia hanya punya.
Sekantong amal ibadah.
Manusia tak lagi punya cahaya.
Tapi manusia hanya punya.
Sekantong amal ibadah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar