Desir
debu tertiup angin
Kaki terserek kea rah kiblat
Membuka jendela tabir
Tabir syafana di tengah padang
Kaki terserek kea rah kiblat
Membuka jendela tabir
Tabir syafana di tengah padang
Hanya
telapak kaki menjadi saksi bisu
Perjuangan atas kekokohan kubah
Hati serontak bergemuruh takbir
Allahu Akbar
Perjuangan atas kekokohan kubah
Hati serontak bergemuruh takbir
Allahu Akbar
Ku
melihat di ujung barat
Onggokan batu besar dengan penuh kesombongan
Hati tergelitik terbahak tawa
Hah,, batu yang kau sembah?
Onggokan batu besar dengan penuh kesombongan
Hati tergelitik terbahak tawa
Hah,, batu yang kau sembah?
Tempat
apa ini?
Tak ada satu pun gemuruh asma-Nya
Sontak lutut pun lumpuh
Mata berkaca merah memohon ampun dengan segala dosa
Tak ada satu pun gemuruh asma-Nya
Sontak lutut pun lumpuh
Mata berkaca merah memohon ampun dengan segala dosa
Tegangan
kuat mengalir
Urat nadi tertarik oleh asmaMu
Ingin ku tegakkan kubah agamaMU
Dengan tiang-tiang kokoh atas asmaMu
Urat nadi tertarik oleh asmaMu
Ingin ku tegakkan kubah agamaMU
Dengan tiang-tiang kokoh atas asmaMu
Hai
orang-orang kafir!
Aku tak akan mendayung sampan sampai ke pulau kesesatanmu
Dan kau, hai orang kafir
juga tak akan ku tarik dengan benang kepercayaanku
Aku tak akan mendayung sampan sampai ke pulau kesesatanmu
Dan kau, hai orang kafir
juga tak akan ku tarik dengan benang kepercayaanku
Ku
berpegang teguh pada mushaf Tuhanku
LAKUM DINUKUM WALIYADIN
Bagimu agamamu dan bagiku agamaku
Tak ada daya mengingkari segala syair yang termaktub dalam kitabmu
LAKUM DINUKUM WALIYADIN
Bagimu agamamu dan bagiku agamaku
Tak ada daya mengingkari segala syair yang termaktub dalam kitabmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar